
Seorang bijak,
Yang meninggalkan kebajikan,
Tidak harus dipandang sebagai seorang bijak lagi.
Seorang bijak yang sesungguhnya,
Meskipun pada saat mencari nafkah,
Tidak akan berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kebajikan.
Dalam keadaan bahagia maupun susah, ia selalu melakukan kebenaran.
Dalam menghadapi bahaya sekalipun ia tidak akan takut,
Ia akan tetap memperhatikan kebajikan
( Confusius, 551SM - 479SM : Seorang guru dan juga seorang Filsuf sosial Tiongkok, karya - karya Falsafahnya selalu mengedepankan moralitas pribadi dan pemerintahan)
Untaian kalimat bijak diatas tadi adalah salah satu karya Confusius, yang secara sengaja ataupun tidak sengaja telah mengingatkan saya akan keadaan di negara kita Indonesia saat ini. Masalah - masalah besar datang silih berganti di Bumi Pertiwi ini. Andai saja para pejabat yang ada di negara ini mau berfikir positif dan berperilaku bijak seperti apa yang di ungkapkan Confusius, sudah barang tentu negara ini akan terhindar dari berbagai macam masalah besar. Dan dipastikan ga akan ada kasus besar seperti BLBI, Century, Gayus, Nazarudin, dll...
Output dari semua itu adalah Jumlah kemiskinan di Indonesia yang mencapai angka 31,02 juta (Data BPS per Maret 2010) berangsur - angsur akan berkurang, hingga terwujudnya ketahanan pangan, kemakmuran serta kesejahteraan rakyat Indonesia kian terjamin. Dan ketika semua itu terwujud, maka tidak akan kita dapati Headline berita tentang "Ruyati, TKW asal Indonesia dipancung di Arabsaudi" dan lain sebagainya di media Elektronik, Cetak maupun Online.
(dari berbagai sumber)
